SUARA DELI – Di tengah upaya reformasi penegakan hukum yang gencar didengungkan aparat, pemandangan berbeda justru tampak mencolok di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang.
Masyarakat tercekik, tapi roda bisnis haram judi togel justru terus berputar tanpa hambatan. Diduga kuat, sosok MG sering disebut bang Martin menjadi otak besar di balik skema perjudian ratusan juta rupiah ini.
Dari warung kopi, rumah-rumah warga, hingga lorong-lorong gelap, aktivitas jual-beli nomor judi beredar seperti candu yang tak terhentikan.
Nama Martin Ginting bahkan disebut warga bak legenda kelam di kampung ini — dari hanya warga biasa, kini menjelma ‘raja tanpa tahta’ yang disegani karena uang haramnya.
“MG itu bukan orang biasa lagi. Dia seperti punya ‘tameng’ yang tak bisa ditembus hukum. Setiap bulan dia bisa kantongi ratusan juta,” ujar seorang warga yang ketakutan menyebutkan namanya, Selasa (22/7)
Martin disebut menguasai empat jenis judi togel sekaligus — Singapore, Hongkong, Sydney, hingga Lotto.
Ironisnya, praktik ini seolah dibiarkan tumbuh subur oleh oknum-oknum yang justru seharusnya menjadi garda depan dalam memberantas penyakit masyarakat. Dugaan keterlibatan oknum aparat keamanan kian santer terdengar.
“Ganti Kapolsek pun nggak ngaruh, dia tetap jalan terus. Artinya apa? Ada yang jaga,” ucap tokoh masyarakat yang geram dengan situasi ini.
Dampaknya nyata. Banyak warga mulai terjebak dalam lilitan hutang, bahkan ada yang menjual barang berharga demi memutar “nomor keberuntungan” yang dijanjikan.
“Judi ini bukan sekadar main angka, tapi sudah merusak tatanan sosial. Anak muda mulai malas kerja, rumah tangga pecah, dan jadi pintu masuk peredaran narkoba,” tegas tokoh adat setempat.
Masyarakat pun tidak lagi tinggal diam. Seruan keras ditujukan kepada Kapolda Sumatera Utara dan Kapolres Pelabuhan Belawan untuk tidak lagi menutup mata.
Mereka menuntut langkah konkret, bukan sekadar himbauan tanpa tindakan.
“Kami bukan minta banyak. Cuma ingin kampung kami bersih. Tangkap MG dan usut siapa yang lindungi dia. Kalau tidak, lebih baik copot saja jabatannya!” seru seorang ibu rumah tangga sambil menggendong anaknya.
Situasi ini menjadi ujian serius bagi institusi kepolisian. Publik bertanya-tanya: Apakah aparat masih berpihak pada rakyat, atau pada para cukong judi yang merusak masa depan bangsa?
Sampai berita ini diturunkan, belum ada satu pun tanggapan resmi dari pihak kepolisian. Sementara itu, masyarakat Hamparan Perak terus hidup dalam bayang-bayang kelam bisnis ilegal yang kian hari kian berani menantang hukum. (Subekti)













